Nasi Uwet H Zarkasi, Kuliner Pekalongan yang Wajib Dicoba!

JATENGLIVE.COM - Ini dia satu warung makan legendaris di Pekalongan. Letaknya di sudut jalan kecil tak jauh dari pusat kota.

Sekalipun ruangannya terbilang sederhana seperti warung tegal pada umumnya, warung di Jalan Sulawesi No 25 Kelurahan Bendan Kergon, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan ini seperti tak pernah sepi pengunjung, melintasi waktu bertahan dari serbuan masakan asing.

Sudah lewat waktu makan siang ketika kami datang, Selasa (16/10/2017), tempat ini masih saja didatangi pembeli, baik yang makan di warung maupun membungkus makanan untuk dibawa pulang.

"Tahun ini sudah 59 tahun warung ini berdiri, Alhamdullilah masih terus meladeni pembeli dengan masakan khas Pekalongan. Kami sejak dulu  hanya ada di warung ini," tutur Zaenudin (58), anak tertua almarhum H Zarkasi. Dua anak lainnya, Zaini (50) dan Solikhin (48) juga ikut berjualan di warung tersebut.

Sepiring nasi uwet dengan sambal goreng pete dan semur daging. ()

Nasi Uwet H Zarkasi dirintis oleh H Zarkasi dan Hj Arsidah sejak 1959. Pada 2004 Hj Arsidah berpulang dan disusul sang suami pada 2010. Sejak itu Zaenudin dan adik-adiknya melanjutkan bisnis keluarga tersebut.

Saat awal berdiri, warung terletak di sisi selatan Pasar Anyar, Pekalongan. Warung yang sekarang bergeser sekitar 50 meter dari lokasi awal pada 1971. 

Nasi megono yang khas Pekalongan menjadi sajian utama berikut lauk pauk hidangan berbahan baku daging serta jeroan kambing dan sapi. Yang sangat khas dari warung ini adalah Uwet, yaitu masakan jeroan kambing yang diikat dengan ususnya. 

"Ini makanya disebut uwet, artinya ikatan. Jeroannya sengaja diikat dengan usus untuk menjadi kekhasan di warung ini, makanya kita sebut nasi uwet," tutur Ny Zaenudin seraya tertawa lebar.

Jeroan yang diikat atau uwet itu dimasak dengan kuah kaldu yang didominasi bumbu rempah-rempah kayu manis dan jahe. Terasa asam, segar, dan menghangatkan begitu kuahnya yang bening diseruput. 

Bumbu masakan uwet ternyata mirip bumbu untuk membuat gulai.

Uwet, oalahan daging dan jeroan kambing yang diikat dengan usus kambing dan dimasak dengan kuah bening tanpa santan. ()

"Hanya saja bumbu uwet tidak memakai santan, tidak pakai kunyit, serai, dan diganti dengan kecap. Bumbu lainnya juga umum, seperti merica, lada, bawang goreng, bawang merah, putih, dan yang paling banyak kayu manis dan jahenya," tutur Ny  Zaenudin.

Makanan yang dihidangkan utamanya nasi megono, nasi yang ditaburi masakan rajangan nangka muda yang diberi bumbu ditambah aneka lauk yang bisa dipilih sesukanya. Ada capitan sapi, olahan daging sapi dan parutan kelapa yang ditusuk dan dibakar seperti sate, uwet kambing atau sapi, kikil, semur daging, garang asem, dan sambal goreng pete.

Mengukus megono, masakan khas Pekalongan berupa cacahan nangka muda dengan aneka bumbu. ()

Zaenudin mengatakan, para pelanggannya lebih menyukai daging kambing. Namun, karena sudah menjadi kekhasan uwet, maka ia menyediakan segenap jeroan kambing.

Warung ini buka setiap hari selain Jumat pukul 07.00-16.00 dan dilanjutkan 18.00-22.00. Aneka masakan tersebut dijual dengan harga relatif terjangkau. Seporsi nasi uwet porsi normal berkisar antara Rp 17.000-Rp 20.000 dan porsi kecil Rp 10.000-Rp 15.000. Tunggu apa lagi, ke Pekalongan selain belanja batik, mampirlah ke warung makan ini.  



Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Nasi Uwet H Zarkasi, Bertahan 60 Tahun di Pekalongan

Google+