AI Bisa Membahayakan, Para Pakar Telah Memperingatkan

Saat ini sedang ramai dibicarakan karena digadang - gadang dapat menggantikan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. 

AI atau artificial intelligence adalah simulasi proses kecerdasan manusia oleh mesin, terutama sistem komputer. Aplikasi spesifik AI meliputi sistem pakar, pemrosesan bahasa alami, pengenalan suara, dan visi mesin.

AI yang banyak digunakan saat ini adalah chatbot ChatGPT. Chatbot berbasis AI buatan OpenAI tersebut dapat menjawab beragam pertanyaan dengan bahasa yang luwes, tidak kaku menyerupai robot. Selain ChatGPT, banyak pula tools atau aplikasi artificial intelligence lain yang juga populer saat ini. Misalnya saja AI Voice Generator, software yang mampu "membuat" suara buatan dengan meniru suara asli dari beberapa tokoh atau karakter.

Bagaimana AI bekerja?
Karena hype seputar AI telah meningkat, vendor telah berebut untuk mempromosikan bagaimana produk dan layanan mereka menggunakannya. Seringkali, apa yang mereka sebut sebagai AI hanyalah sebuah komponen dari teknologi, seperti pembelajaran mesin. AI memerlukan dasar perangkat keras dan perangkat lunak khusus untuk menulis dan melatih algoritme pembelajaran mesin. Tidak ada satu pun bahasa pemrograman yang identik dengan AI, tetapi Python, R, Java, C++, dan Julia memiliki fitur yang populer di kalangan pengembang AI.

Secara umum, sistem AI bekerja dengan menyerap data pelatihan berlabel dalam jumlah besar, menganalisis data untuk korelasi dan pola, dan menggunakan pola ini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa mendatang. Dengan cara ini, chatbot yang diberi contoh teks dapat belajar menghasilkan pertukaran yang nyata dengan orang-orang, atau alat pengenalan gambar dapat belajar mengidentifikasi dan mendeskripsikan objek dalam gambar dengan meninjau jutaan contoh. Teknik AI generatif yang baru dan meningkat pesat dapat membuat teks, gambar, musik, dan media lain yang realistis.

Pemrograman AI berfokus pada keterampilan kognitif yang mencakup hal-hal berikut:

  • Belajar Aspek pemrograman AI ini berfokus pada perolehan data dan membuat aturan untuk mengubahnya menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti. Aturan, yang disebut algoritme, memberi perangkat komputasi petunjuk langkah demi langkah tentang cara menyelesaikan tugas tertentu.
  • Pemikiran. Aspek pemrograman AI ini berfokus pada pemilihan algoritme yang tepat untuk mencapai hasil yang diinginkan.

  • Koreksi diri. Aspek pemrograman AI ini dirancang untuk terus menyempurnakan algoritme dan memastikannya memberikan hasil seakurat mungkin.

  • Kreativitas. Aspek AI ini menggunakan jaringan saraf, sistem berbasis aturan, metode statistik, dan teknik AI lainnya untuk menghasilkan gambar baru, teks baru, musik baru, dan ide baru.

Meski demikian, sejumlah pakar mengingatkan potensi bahaya dari teknologi tersebut. Berikut ini sejumah pakar yang mengingatkan soal bahaya AI:
1. Elon Musk
CEO Twitter ini telah memperingatkan bahanya AI untuk masa depan. Dikutip dari CNN, Elon Mush mengatakan jika AI di masa depan bisa menyebabkan kehancuran peradaban. Dia beranggapan AI lebih berbahaya dibanding desain pesawat yang salah urus atau salah pemeliharaan, serta lebih bahaya dibandingkan produksi mobil yang buruk.

Musk juga menambahkan ketergantungan pada AI untuk melakukan tugas-tugas yang nampaknya sepele, lambat laun akan menciptakan manusia yang bahkan lupa cara mengoperasikan mesin yang mengaktifkan AI sejak awal.

2. Geoffrey Hinton
Dikenal sebagai bapak kecerdasan buatan, dia menyatakan mundur dari Google sembari memperingatkan bahaya AI yang akan berkembang ke depannya. Hinton bahkan mengatakan dia menyesali pekerjaannya dan menyebut bahaya AI chatbots cukup menakutkan.

Alasannya mundur adalah karena usianya 72 tahun, dan menurutnya umur itu sudah cukup tua baginya. Selama ini penelitian yang dilakukannya adalah terkait neural network dan deep learning yang melandasi lahirnya AI seperti ChatGPT. Dalam kecerdasan buatan, neural network adalah sistem yang mirip dengan otak manusia dalam belajar dan memproses informasi. Hal ini memungkinkan AI untuk belajar dari pengalaman layaknya manusia atau yang kemudian dikenal dengan deep learning.

Dia juga menambahkan dalam jangka pendek AI kemungkinan akan memberikan lebih banyak manfaat daripada resiko. Sehingga peringatan bahayanya soal AI bukan berarti AI harus berhenti dikembangkan.

3. Bill Gates
Pendiri microsoft ini juga memperingatkan bahaya AI. Dia mengatakan AI akan mengubah mansyarakat dalam beberapa cara yang sangat berpengaruh. Yang paling berbahaya menurutnya adalah jika penerapan AI dilakukan untuk peperangan.

Meski demikian, Gates mengatakan AI tetaplah memiliki potensi untuk melakukan banyak kebaikan bagi umat manusia karena bisa mengurutkan data dalam jumlah besar dan lebih mahir dibanding manusia.
 

Baca Juga :

Keyword:
Google+