Ketika Salju Turun di Bromo

Wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Jawa Timur pada bulan Juni hingga September 2019 mendatang bakal mendapatkan bonus fenomena langka, yakni embun salju atau frost. Selain menikmati hawa dingin dan pemandangan pegunungan, pada pagi hari wisatawan juga bisa melihat embun upas yang menyerupai salju.

Otoritas terkait menjelaskan sesuai laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahwa fenomena ini bakal berlangsung hingga September 2019. Fenomena ini sebenarnya cukup sering terjadi dan bisa dijumpai saat dini hari dan pagi hari sebelum terkena panas terik matahari.

Namun, tahun ini, kawasan yang terdampak embun upas cukup luas. Tidak hanya pada tumbuhan, embun salju ini juga menempel di lautan pasir Gunung Bromo, juga di Cemorolawang, Ranupani, Ranu Kumbolo dan Penanjakan, Selasa, 25 Juni 2019 pagi.

Hal tersebut pun membuat wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Gunung Bromo meningkat. Peningkatan ini juga diprediksi akan terus terjadi hingga bulan September nanti.

"Kemungkinan sampai September. Apalagi ini momen langka. Jadi mereka (wisatawan) ada tujuan berkunjung. Selain melihat Gunung Bromo, juga untuk melihat itu (embun upas)," kata Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Syarif Hidayat, Selasa, 25 Juni 2019.

Syarif mengatakan, jumlah kunjungan wisatawan di bulan Juni memang meningkat dibandingkan bulan Mei. TNBTS mencatat, selama periode 1-24 Juni 2019, Bromo dikunjungi lebih 84 ribu wisatawan. Jauh lebih banyak dibandingkan periode Mei yang sebanyak 53.868 orang.

"Untuk bulan Juni ini belum tentu kesimpulannya karena frost, bisa juga karena musim libur sekolah. Tapi fenomena frost untuk pengunjung menjadi daya tarik langka atau eksotis, sehingga banyak yang mengabadikan dalam bentuk foto selfie atau video," ujar Syarif.

Syarif mengatakan, kemunculan embun upas waktunya tidak bisa ditentukan berdasarkan teori. Namun, ada indikasinya yang bisa diramal. Biasanya sebelum muncul embun upas, cuacanya sehari sangat panas terik, beranjak sore muncul kabut tipis, dan pada malam hari suhu dingin sampai 0 derajat Celsius mendekati titik beku.

"Kita belum melakukan riset terkait dampak frost, tapi kita akan mendorong dan mendukung teman-teman fungsional pengendali ekosistem hutan atau pihak lain yang akan melakukan riset terkait fenomena frost," ujar Syarif.

Sementara, sebagai antisipasi lonjakan wisatawan karena penasaran dengan fenomena embun upas, TNBTS telah menyiagakan petugas dalam pelayanan pengunjung, di antaranya melakukan kerja sama dengan beberapa komunitas yang bakal berjaga di pintu masuk dan titik poin kunjungan turis.

Artikel asli: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/travel/1160121-bromo-bersalju-wisatawan-diprediksi-meningkat-hingga-september

 

Keyword:
Google+