Mampir Yuk Soto Legendaris di Semarang yang Enak dan Lezat

JATENGLIVE.COM - Dari sekian banyak warung soto terkenal di Kota Semarang, Soto Ayam Rombongan Pak Mul sepertinya masih punya daya tarik tersendiri.

Tidak hanya cara merebus kuahnya yang menggunakan bahan bakar kayu, melainkan juga silsilah pemilik kedai yang beralamat di Jl Anjasmoro Raya 3B itu.

Oh, ya, kata rombongan pada nama kedai juga terbilang unik karena di dalamnya tertanam sejumput doa.

Pemilik kedai yang tidak lain adalah istri Pak Mul, Asiyah (53) dengan akrab menyapa masing-masing pelanggannya.

"Silakan masuk mami dan papi, itu di dalam masih ada kursi kosong," katanya kepada sepasang suami istri Tionghoa yang sudah lanjut usia.

Keduanya mengangguk saat Asiyah menanyakan pertanyaan retoris, dua ya?

Keakraban kepada pelanggan ini bisa jadi merupakan salah satu kekuatan yang menjadikan kedai Soto Ayam Rombongan Pak Mul bertahan.

Betapa tidak, mulai buka sejak tahun 1987 dengan menyewa kios di seberang lokasi yang sekarang, Pak Mul yang memiliki nama asli Mulyono mampu berjualan dengan mengusung konsep yang sama, memakai bahan bakar kayu.

"Dulu saya pakai bahan bakar kayu pohon karet. Harus kayu itu karena rasa yang keluar dari kuah sangat identik dan itu yang menjadikan kedai saya dikenal orang," sebutnya.

Sayang, semakin berkembangnya jaman membuat Asiyah kesulitan menemukan kayu dari pohon karet.

Sebagai gantinya, Asiyah kini menggunakan kayu yang ia dapatkan dari tukang mebel maupun orang-orang yang sengaja datang menawarkan kayu bekas bongkaran rumah.

Selain nama Pak Mul, kedai tersebut sebenarnya juga dikenal dengan nama soto kayu.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kendal, Muryono, mengaku saat ke Semarang salah satu tempat makan yang tercetus di benaknya adalah nama soto kayu.

"Rasanya beda dari soto lainnya. Kalau mampir saya selalu pesan semangkuk soto dan jeruk panas," aku Muryono.

Asiyah mengungkapkan, pada jaman dulu para pedagang soto menggunakan arang sebagai bahan bakar. Lain halnya dengan masa kini ketika bahan bakar lebih mudah didapatkan.

Mulyono sendiri merupakan generasi ketiga yang menekuni usaha soto kayu. Satu generasi di atas yang merupakan kakak dari orang tua Mulyono berjualan di kawasan Puspogiwang pada tahun 1960an dan keluarga besar tersebut merupakan pendatang asal Welahan, Jepara.

Bu Asiyah juga sudah naik haji berkat jualan soto kayu.

Keluarga sang suami yang menekuni usaha serupa juga memakai bahan kayu pada kedai sotonya.

"Di Semarang Barat ada lima, semuanya saudara dan karena tradisi dari pakde-pakde kami, bahan bakar kayu ini tidak pernah kami tinggalkan," ujarnya.

Selain kerabat Mulyono, tiga anak mereka tersebut sedang diarahkan agar menekuni usaha serupa.

Dua anak pertama masing-masing sudah membuka kedai di Manyaran dan Jl Abdurahman Saleh.

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Cobalah Makan Soto Kayu Pak Mul di Anjasmoro Pasti Ketagihan, Kondang Sejak 1987.

Google+