5 Candi di Jawa Tengah dengan Cerita Sejarah di Baliknya!
Jawa Tengah punya banyak candi yang menyimpan cerita menarik di balik bangunannya. Nggak cuma soal sejarah, ada juga kisah cinta, kepercayaan kuno, hingga relief unik yang mungkin belum banyak kamu tahu. Yuk, kenalan dengan 5 candi di Jawa Tengah yang punya cerita menarik dibaliknya!
1. Candi Sukuh

Sumber : traveloka.com
Candi Sukuh merupakan candi peninggalan agama Hindu dari abad ke-15 yang terletak di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya berada di Dukuh Sukuh, Desa Barjo, Karanganyar. Candi Sukuh ditemukan kembali pada 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta, yang kemudian melaporkannya kepada Raffles. Candi ini diduga digunakan untuk ruwatan, yaitu upacara untuk melepaskan pengaruh buruk dari seseorang. Adapun dugaan itu berdasarkan pada relief cerita seperti Sudamala dan Garudeya, serta arca kura-kura dan garuda yang ada di sana.
Bentuk bangunan utamanya menyerupai piramida berundak dengan puncak terpotong setinggi sekitar 8,7 meter, yang kerap dibandingkan dengan piramida suku Maya di Meksiko, Bentuk tersebut juga ditafsirkan melambangkan Gunung Mandaragiri dalam kisah pengadukan lautan untuk mencari air kehidupan. Selain itu, relief Candi Sukuh menggambarkan kisah pengruwatan Bathari Durga oleh Sadewa, tokoh pewayangan seperti Bima dan Arjuna, Ganesha yang digambarkan menari, hingga aktivitas pande besi yang mencerminkan kepercayaan dan kehidupan masyarakat pada masa itu.
- Lokasi : Jl. Candi Sukuh, Tambak, Berjo, Kec. Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
- Jam Buka : 07.00 – 15.00 WIB
- HTM : ± 15.000
2. Candi Plaosan

Sumber : traveloka.com
Candi Plaosan atau yang dikenal sebagai Candi Kembar terletak di Desa Bugisan, Kabupaten Klaten. Dikenal sebagai Candi Kemar karena kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Candi ini dibangun sekitara bad ke-9 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno dan kerap dikaitkan dengan kisah cinta Rakai Pikatan yang beragama Hindu dan Pramodhawardhani yang beragama Buddha. Meskipun perbedaan agama mereka menjadi hambatan dalam mendapatkan restu keluarga, namun Rakai Pikatan membangun Candi Plaosan sebagai bentuk bukti cintanya terhadap Pramodhawardhani.
Candi ini juga menjadi contoh nyata dari wujud harmoni dan toleransi antara agama Hindu dan Buddha dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Keunikan Candi Plaosan terlihat dari perpaduan unsur arsitektur Hindu dan Buddha yang tercermin dalam bangunan serta reliefnya. Relief-relief tersebut menggambarkan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat pada masa itu. Perpaduan ini menjadikan Candi Plaosan bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga pengingat tentang hubungan antarumat beragama pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
- Lokasi : Jl. Candi Plaosan, Dukuh Plaosan, Bugisan, Kec. Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
- Jam Buka : 07.30 – 17.00 WIB
- HTM : ± 10.000
3. Candi Mendut

Sumber : regional.kompas.com
Berikutnya adalah Candi Mendut yang lokasinya hanya serjarak sekitar 2km saja dari Camdi Borobudur, tepatya berada di Jl. Mayor Kusen, Desa Mendut, Kec. Mungkid, Kab. Magelang. Usia Candi Mendut diperkirakan memiliki usia yang lebih tua dari Candi Borobudur, dimana dibangun pada tahun 824 M. Candi ini merupakan peninggalan agama Budha karena terlihat dari relief serta arca yang ada di Candi Mendut.
Pada zaman dulu, Candi Mendut memiliki beberapa fungsi seperti dijadikan sebagai tempat pemujaan dan menjadi tempat untuk mengajarkan ajaran-ajaran Buddha. Hal tersebut dapat diketahui melalui beberapa relief berisi tentang cerita-cerita Jataka yang mengisahkan tentang ajaran luhur agama Buddha. Hingga sekarang, situs ini masih menjadi tempat peribadatan umat Buddha dan juga telah berfungsi sebagai destinasi wisata bersejarah.
Daya tarik Candi Mendut sendiri adalah adanya lima relief yang menggambarkan ajaran Buddha dan kisah kehidupan spiritual, di antaranya relief Kuwera dan Hariti tentang pertobatan raksasa pemakan manusia, Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva, Dewi Tara, serta Sarwaniwaranawiskhambi. Selain relief, candi Buddha ini juga memiliki tiga arca utama berukuran besar, yaitu arca Vairocana yang melambangkan Buddha yang mengajarkan Dharma, Avalokitesvara, dan Bodhisattva Vajrapani. Relief dan arca tersebut menjadi bagian penting dari nilai sejarah serta ajaran Buddha yang tersimpan di Candi Mendut.
- Lokasi : Jl. Mayor Kusen, Desa Mendut, Kec. Mungkid, Kab. Magelang, Jawa Tengah
- Jam Buka : 08.00 – 16.00 WIB
- HTM : ± 10.000
4. Candi Pawon

Sumber : campatour.com
Masih di kawasan Candi Borobudur, terdapat candi yang tak kalah megah dan indah. Namanya adalah Candi Pawon yang berada di Wanurejo, Magelang. Menurut ahli filologi Belanda, J. G. de Casparis, candi ini diperkirakan menjadi tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra (782–812 M), penguasa Wangsa Syailendra. Candi Pawon diduga dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Indra yang diyakini telah mencapai tingkat Bodhisattva. Candi ini juga diduga menjadi pintu gerbang dari Candi Borobudur.
Nama Pawon dalam bahasa Jawa berarti dapur, tetapi de Casparis menafsirkannya berkaitan dengan kata awu atau abu. Sementara itu, masyarakat setempat mengenalnya sebagai Candi Brojonalan, yang berasal dari kata Sanskerta vajra (halilintar) dan anala (api). Meski begitu, fungsi asli candi ini masih berupa dugaan berdasarkan penafsiran sejarah.
Bangunan Candi Pawon terbuat dari batu andesit dengan denah bujur sangkar berukuran sekitar 10 meter pada setiap sisinya dan tinggi mencapai 13,3 meter. Candi ini menghadap ke barat dan terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap. Bagian kaki dihiasi ornamen bunga dan sulur, tubuhnya memiliki hiasan arca Bodhisattva, sedangkan atapnya berbentuk persegi bersusun dengan hiasan stupa.Candi ini terbagi dalam tiga bagian: kaki, tubuh, dana tap candi. Bagian kaki Candi Pawon setinggi 1,5 meter yang dihiasi ornamen seperti bunga dan sulur. Tubuh candi berhias arca Bodhisattva, sementara di bagian atap yang berbentuk persegi bersusun, ada hiasan stupa.
- Lokasi : Brojonalan, Dusun 1, Wanurejo, Kec. Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
- Jam Buka : 07.00 – 11.00 WIB & 12.00 – 16.00 WIB
- HTM : ± 5.000
5. Candi Pringapus

Sumber : kompas.com
Candi Pringapus merupakan peninggalan Hindu bercorak Syiwa yang terletak di Desa Pringapus, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Candi ini diperkirakan dibangun sekitar 850 Masehi atau 772 Saka sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa sekaligus replika Gunung Mahameru, gunung suci dalam kepercayaan Hindu yang diyakini sebagai tempat bersemayam para dewa. Keberadaannya pertama kali tercatat oleh peneliti Belanda, F. W. Junghuhn, pada 1844, kemudian dipugar sekitar 1929–1930 setelah mengalami kerusakan.
Daya tarik Candi Pringapus terletak pada ornamen dan relief batu andesit dengan pahatan yang halus. Berbagai peninggalan seperti arca Nandi, lingga-yoni, serta motif kala-makara mencerminkan seni bangunan dan kehidupan religius masyarakat Jawa pada masa klasik. Meski sebagian strukturnya telah direkonstruksi, candi ini tetap mempertahankan ciri arsitektur khasnya.
Berada di kawasan lereng Gunung Sindoro, Candi Pringapus menawarkan suasana sejuk dengan pemandangan sawah, kebun tembakau, dan pegunungan. Di sekitar candi juga terdapat sendang atau kolam yang dikenal memiliki air yang tidak mudah mengering saat musim kemarau. Perpaduan peninggalan sejarah dan suasana alam menjadikan candi ini menarik untuk wisata sekaligus mengenal kebudayaan Hindu Jawa kuno.
- Lokasi : Pringapus, Kec. Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 56255
- Jam Buka : 08.00 – 15.30 WIB
- HTM : ± 5.000